Menu Dapur Umum di Karantina Klaster Ponpes Banyuwangi Berstandar Khusus

  • Whatsapp
Plt. BPBD Banyuwangi: ‘Nyinyiran’ foto hanya nasi sama mie, itu bukan dari dapur umum penanganan kebencanaan COVID-19.

KABAR RAKYAT – Nyinyiran di grup whatsapp dan medsos tentang menu masakan dapur umum penanganan COVID-19 di karantina klaster Ponpes di Banyuwangi, Jawa Timur mendapat tanggapan dari serius. Apalagi menyangkut molor jam makan hingga menu masakan hanya nasi dan mie saja.

Sindaran dari pihak yang sengaja mengacaukan situasi proses karantina di klaster pondok pesantren terbesar di Banyuwangi langsung dapat tanggapan dari pihak Plt Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, H. Abdul Kadir.

Pemkab Banyuwangi mengadakan dapur umum untuk penanganan klaster pondok pesantren di Banyuwangi. Dapur umum ini menyediakan 18.000 porsi makanan untuk kebutuhan santri pondok pesantren selama masa karantina 14 hari.

Baca: Pendaftaran Calon, KPU Banyuwangi Himbau Paslon Tidak Membawa Massa

Pemkab Banyuwangi, kata Abdul Kadir, telah menyediakan anggaran Rp 3 miliar untuk kebutuhan logistik dapur umum tersebut.

“Mulai Kamis besok, ada pemilahan dapur. Sebelumnya kan hanya Pemkab Banyuwangi dan Pemprov Jatim. Mulai Kamis, 3000 porsi disiapkan TNI, 1500 porsi dari Pemprov Jatim, dan 1500 porsi dari Pemkab Banyuwangi,” jelas Plh BPBD Banyuwangi.

“Namun semua logistik anggarannya APBD Banyuwangi dari dana tidak terduga khusus untuk kebencanaan. Pemprov Jatim dan TNI mendukung tenaga dan peralatan agar penyiapan lebih cepat,” kata Kadir.

Baca: 7 Anggota Brigade Penolong 13.10 Pramuka Kwarcab Banyuwangi Dikukuhkan

Ada bantuan tenaga Tagana Jatim 30 orang dan TNI melibatkan 150 anggotanya.

Menu sebanyak 18.000 porsi makanan untuk sarapan, makan siang, dan malam, selama 14 hari. Makanan yang disajikan pun tidak sembarangan, harus nasi kotakan.

“Menunya sesuai yang disarankan oleh Kementrian Kesehatan. Di setiap penyajian harus ada nasi, lauk, sayur, dan buah. Juga diberi air mineral kemasan,” kata Kadir.

Baca: Pemprov Jatim Gerak Cepat Atasi Klaster Covid-19 PP Darussalam Blokagung Banyuwangi

“Jadi kami tegaskan, bila ada foto nasi hanya sama mie, itu bukan dari dapur kami,” tegas Kadir.

Untuk kebutuhan tersebut, Kadir mengatakan, BPBD belanja logistik dalam jumlah besar. Contohnya, untuk satu kali menu makan siang dibutuhkan telor ayam 645 kg, terong 650 kg, tempe 40 lonjor, tomat 50 kg, cabe besar dan rawit 90 kg, terasi 10 kg.

“Lalu nasi 900 kg, belum buah-buahan. Kami bekerja tulus demi kebaikan para penghuni pondok pesantren agar segera dibebaskan dari covid 19,” beber Kadir.

Baca: Wagub Emil Doakan Pandemi Covid-19 Harus Jadi Pemantik Meroketnya Pembangunan dan Ekonomi Trenggalek

Dapur umum telah didirikan di tanah lapang yang tidak jauh dari pondok. Lapangan itu didesain menjadi pusat dapur umum.

Anggota Taruna Siaga Bencana atau Tagana yang terlibat di dapur umum, Dwi Trestanti, dari Kecamatan Rogojampi, mengatakan, pengalaman memasak untuk penanganan Covid-19 adalah pengalaman baru bagi dia, karena memang pandemi Covid-19 ini baru pertama melanda dunia.

“Ini jumlahnya luar biasa besar, 18 ribu itu tidak sedikit. Ekstra kerjanya,” kata Tanti, sapaan akrabnya.

Baca: Blusukan di Ngawi, Ketua Forikan Jatim Dorong Peningkatan Konsumsi Ikan

“Kami semua bekerja keras, tulus. Meski tugas kami penuh risiko, ini sudah panggilan jiwa, kami niatkan membantu sesama,” ujarnya.

Terpisah, dalam situs resmi Pondok Pesantren Blokagung, ada 5 santri dengan bermasker menunjukan ungkapan, ucapan terimakasih pada TNI-Polri, BPBD Jawa Timur, BPBD Banyuwangi, Tagana, Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten Banyuwangi serta pihak yang terlibat proses karantina karena Covid-19 itu.

Bahkan menunjukan bungkus nasi kotak yang masih akan dibagikan pada seluruh santri penerima. Video durasi pendek bisa dilihat di lamana fb resminya

 https://www.facebook.com/702842663064416/posts/3770173452997973/. ***

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *