Pemkab Banyuwangi dan NU Rumuskan Tradisi Tahlil – Istighosah untuk New Normal

  • Whatsapp

KABAR RAKYAT – Pemkab Banyuwangi bersama Nahdlatul Ulama (NU) merumuskan skema new normal untuk bidang keagamaan, termasuk untuk tradisi keagamaan, seperti tahlilan dan kegiatan lainnya.

Selanjutnya terus berlanjut ke tokoh Muhammadiyah dan LDII, lalu sahabat tokoh agama Hindu, Kristen, Katolik, dan Konghucu.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, mengatakan new normal bukan berarti kita kembali seperti era sebelum Covid-19.

“New normal adalah aktivitas yang dilandasi kesehatan dan kebersihan sebagai standar utama. Ini belum akan diterapkan, masih dikaji,” imbuh Anas.

Dari hasil masukan para tokoh serta insan kesehatan, nantinya disusun panduan untuk berbagai macam protokol, mulai protokol rumah ibadah, kantor pelayanan publik, tempat pendidikan, ruang terbuka hijau, restoran, destinasi wisata, dan sebagainya.

”Makanya kami minta arahan para ulama, tentang bagaimana new normal ini, misalnya saat tahlilan, istighasah, dibaiyah dan lainnya,” jelas Anas.

Sejumlah protokol yang dibahas, seperti wajib bermasker, anak kecil dan orang sakit dilarang mengikuti acara keagamaan untuk sementara waktu, dan hanya sekian kapasitas rumah ibadah yang boleh dipergunakan.

Kemudian, jika tahlilan, tempat duduk berjarak, tersedia hand sanitizer dan sarana sanitasi.

”Tentu kita pahami tidak semua warga, misalnya, bisa sediakan hand sanitizer, maka perlu saling bantu,” ujarnya.

Saat tahlilan, yang biasanya mengundang katakanlah 40 orang selama 7 hari, untuk sementara waktu cukup 10 orang saja hari pertama, 10 orang lainnya hari kedua, dan seterusnya.

Ketua PCNU Banyuwangi KH Ali Makki Zaini mengusulkan new normal untuk disimulasikan sesegera mungkin. PCNU juga menyerahkan sejumlah rekomendasi tentang pelaksanaan pendidikan di madrasah dan pesantren.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *